Disusun oleh Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Rotibul Hadad disusun pada tahun 1071 Hijriah, bermula ketika para pemuka Hadramaut merasa khawatir akan masuknya kelompok Syiah Zaidiyah di wilayah Hadramaut. Mereka khawatir aqidah Syiah Zaidiyah akan mempengaruhi terhadap keyakinan orang awam yang sejak lama berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang telah diajarkan oleh para Salafus Shalih. Berdasarkan hal ini, mereka menghadap kepada Al-Qutb Abdullah bin Alwi al-Haddad agar diberi bacaan supaya hal yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Beliau pun menuliskan wirid yang nantinya dikenal dengan nama Rotibul Haddad ini. Semenjak saat itu, bacaan Rotibul haddad banyak dibaca di berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sampai saat ini.
Rotibul Haddad ini sangat dianjurkan dibaca secara bersama-sama dalam majelis dzikir. Sedangkan ketentuan waktu membacanya dijelaskan dalam penjelasan berikut : "Sebaiknya seorang murid yang sungguh-sungguh membaca rotib ini, terlebih ketika penyusun rotib ini merupakan perantara baginya menuju Alloh ta'ala. Membaca rotibul haddad ini setelah shalat isya' dan subuh adalah cara membaca yang paling sempurna, namun membaca rotib ini satu kali dalam sehari semalam dianggap cukup, yang paling utama dilakukan setelah melaksanakan shalat isya'. Sedangkan di bulan Ramadhan, membaca rotib ini didahulukan dari pelaksanaan shalat isya'" (Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar, al-Imdad bi Syarhi Rotib al-Haddad, Hal. 55)
Sumber: https://gadingpesantren.id/artikel/baca/menguak-faedah-dzikir-ratib-alhaddad